| |
|
|
Pemerintah
Hapus Hutang PDAM |
|
| I17
Maret 2008 (Kompas) |
|
| |
|
|
| Pemerintah
menghapus denda utang perusahaan daerah
air minum atau PDAM diseluruh Indonesia.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen
Pekerjaan Umum mencatat hingga Maret 2008
jumlah utang seluruh PDAM di Indonesia kepada
pemerintah Rp.5,4 triliun. |
|
|
| |
|
|
Selain
menghapus denda tunggakan pembayaran utang, pemerintah
juga memotong bunga utang hingga menjadi 40 persen
dan menetapkan jangka waktu pembayaran utang 20
tahun. Menurut Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen
PU Budi Yuwono, langkah tersebut untuk meringankan
beban PDAM membayar utang. Hal itu disampaikannya,
Sabtu (15/3) di Bandung, dalam ”Orientasi
Wartawan Departemen PU” yang dihadiri Menteri
PU dan seluruh dirjen. |
|
| |
|
|
Persyaratan
5 persen dihapus |
|
Budi
menjelaskan, awalnya Departemen Keuangan menetapkan
bahwa keringanan pembayaran utang hanya diberikan
bila PDAM membayar 5 persen dari utangnya. Sebanyak
delapan PDAM mengajukan keringanan dengan alasan
sulit untuk membayar 5 persen dari utangnya. |
|
| |
|
|
Melihat
kondisi tersebut, Departemen PU dan Depkeu menghapus
persyaratan 5 persen itu. ”Materi kebijakan
mengenai utang PDAM telah dirumuskan. Tinggal
persetujuan Menkeu,” kata Budi. |
|
| |
|
|
Budi
menegaskan, kemudahan pembayaran utang tidak berlaku
untuk PDAM DKI Jakarta sebab perusahaan ini dikelola
swasta.
Menurut
Kepala Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan
Air Minum Rachmat Karnadi, PDAM sulit untuk melakukan
ekspansi usaha karena tak ada dukungan pendanaan.
Ini karena tarif PDAM relatif murah.
|
|
| |
|
|
Tarif
ideal untuk pelayanan air minum PDAM Rp. 3.500
per meter kubik. ”Kini masih ada yang tarifnya
Rp. 500 per meter kubik. Ini sangat tidak sehat,”
ucapnya. Menurut Rachmat, agar PDAM dapat beroperasi
normal, minimal tarifnya Rp. 2.500 per meter kubik.
|
|
| |
|
|
| |
|
|